Penyimpangan Seksual Fetish, Kenali Ciri-cirinya

Smartnews – Fetish merupakan suatu bentuk penyimpangan seksual. Fetish adalah seseorang yang terangsang dengan bagian-bagian tubuh yang non seksual atau benda-benda yang non seksual.

Beberapa contoh bagian tubuh yang terbilang non seksual antara lain, ketiak, pusar, atau jari-jari tangan. Sedangkan benda yang masuk kategori non seksual, di antaranya, sepatu hak tinggi, selimut bayi, atau benda-benda lain yang tidak ada kaitannya dengan seksualitas.

Menurut Seksolog dr. Haekal Anshari, M. Biomed (AAM), karena fetish tergolong ke dalam penyimpangan seksual, maka kondisi ini harus segera diatasi. Lalu, apa sih penyebab dari fetish ini?

“Fetish sebagian besar diderita oleh laki-laki, karena kita hidup di dunia patriarki. Dalam dunia patriarki, laki-laki itu harus kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh cengeng, tidak boleh sedih,” ujarnya dikutip dari viva.co.id, Selasa 26 Oktober 2021.

“Akibat tuntutan ini, maka akibatnya laki-laki menjadi tidak jujur dengan emosinya. Sehingga dia mengalami ketidaknyamanan emosional dan ini disublimasi menjadi hal-hal yang membuatnya nyaman. Contohnya adalah dengan perilaku fetish,” sambungnya.

Dokter Haekal menyimpulkan, penyebab fetish tidak hanya karena tindakan pelecehan di masa lalu, tapi juga bisa disebabkan karena sistem patriarki yang berkembang di masyarakat kita.

Namun, kendati tergolong ke dalam penyimpangan seksual, fetish bisa dikatakan mengganggu, tapi bisa juga tidak. Lalu, apa ciri-cirinya?

“Fetish dapat dikatakan mengganggu, kalau dia memaksakan keinginannya pada orang lain, sehingga terjadilah pelecehan seksual. Seperti kasus kain jarik, di mana si pelaku memaksakan keinginannya pada orang lain dengan tujuan untuk memenuhi hasratnya. Tapi, banyak juga pelaku fetish yang tidak mengganggu orang lain,” terang dia.

Lebih lanjut Haekal menjelaskan, fetish juga memiliki tingkatan. Ada yang ringan hingga parah. Bagaimana cara membedakannya?

“Fetish ringan adalah pelaku fetish yang masih bisa dan masih mau untuk melakukan hubungan seksual, tapi tetap mesti ada benda-benda atau bagian tubuh non seksual yang ada di dekatnya,” jelasnya.

“Sedangkan fetish yang parah adalah mereka yang tidak bisa lagi atau tidak mau melakukan hubungan seksual, karena sudah merasakan kenikmatan dengan melakukan fetish atau menikmati bagian tubuh atau benda-benda yang non seksual,” lanjut dia.

Oleh karena itu, Haekal mengatakan, semua orang bisa menjadi fetish. Dia mencontohkan, misalnya ada seseorang yang merasa terangsang jika melihat betis perempuan atau merasa terangsang melihat sepatu hak tinggi perempuan.

“Nah yang dikatakan mengganggu kalau pelaku fetish memaksakan keinginannya pada orang lain sehingga menyebabkan terjadinya pelecehan seksual. Oleh karena itu, mulai saat ini, jangan pernah sekali-kali gampang mengucapkan fetish, karena fetish itu sebetulnya penyimpangan seksual,” tegas dr. Haekal Anshari.(*)

Ikuti juga kami di Google News Smart News