Gerak Cepat, PT Vale Terapkan Tambang Berkelanjutan

CEO PT Vale Indonesia Tbk, Febriany Eddy, saat melakuka penanaman pohon. (Dok. PT Vale)

Malili, Smartnews – PT Vale Indonesia Tbk, tetap berkomitmen dan mendorong tambang berkelanjutan untuk mewujudkan target Net Zero emission pada tahun 2050 mendatang.

Hal ini diungkapkan oleh CEO PT Vale Indonesia Tbk, Febriany Eddy, dalam pertemuan Conference of the Parties (COP26) yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, beberapa waktu lalu.

Menurut Febriani Eddy, PT Vale akan turut ambil bagian dan berperan aktif dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau sesuai dengan visi dan misi yang termaktub dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)

“Saya senang berada di sini, di Glasgow, untuk menghadiri COP26 UNFCCC, mendukung Paviliun Indonesia dan berbagai upaya bersama menuju ekonomi hijau dari prespektif bisnis. Perubahan iklim adalah nyata dan setiap kita wajib berkonstribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau. Bersama,” kata Febriany Eddy.

CEO PT Vale Indonesia Tbk, Febriany Eddy, dalam pertemuan Conference of the Parties (COP26) yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, beberapa waktu lalu.

Menurut Febriany Eddy, sangat penting bagi industri pertambangan untuk bertransformasi guna membangun kepercayaan, tumbuh lebih kuat, dan mencapai hasil yang berkelanjutan.

“Saya ingin menggunakan momen ini untuk menegaskan kembali komitmen Vale untuk menjadi industri pertambangan, yang didorong oleh keberlanjutan dan bekerja untuk mencapai target ambisius Net Zero Emission pada tahun 2050,” katanya.

Febriany melanjutkan, PT Vale Indonesia Tbk, telah melakukan gerak cepat untuk melaksanakan pengurangan emisi karbon, hal ini, kata dia, menjadi bagian solusi untuk perubahan iklim.

“Sejak beroperasi 53 tahun lalu, PT Vale Indonesia Tbk sangat mendukung peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT), melalui praktik pertambangan yang berkelanjutan,” jelas Febriany.

Bukan hanya itu, demi mewujudkan hal itu, PT Vale Indonesia telah mengawalinya dengan meningkatkan penggunaan EBT, yakni membangun dan mengoperasikan 3 Unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas sebesar 365 Megawatt (MW) dan berkontribusi terhadap 36% total energi yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi.

“Sekedar informasi saja, pengoperasian 3 PLTA tersebut mampu mengurangi emisi CO2 lebih dari 1 juta ton CO2eq setiap tahun. Hal ini tentu akan kita tingkatkan terus ke depannya,” ujarnya.

Tak hanya itu saja, kata Febriany, pada operasional pabrik di Blok Sorowako telah diterapkan penggunaan teknologi electric boiler, dan pemanfaatan biodiesel B30.  Hal tersebut dilakukan untuk mencapai target Net Zero Emissions pada 2050.

“Perseroan membuat komitmen publik yang sangat ambisius untuk mengurangi emisi karbon terkait dengan kegiatan penambangan, pengolahan, dan pada akhirnya, penggunaan produk kami,” katanya.

“Tujuan kami adalah mengurangi emisi sebesar 30% paling lambat pada 2030 dan menjadi net zero emissions pada 2050.  Hal ini sejalan dengan Paris Agreement yang telah ditandatangani Vale pada 2019 silam,” urai Febriany.

Demikian pula nantinya pada pembangunan pabrik baru di area  Bahodopi, Sulteng, kata Febriany, pihaknya yang akan menggunakan PLTG atau energi gas bumi. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik nikel dengan emisi karbon per ton nikel terendah kedua setelah Sorowako yang menggunakan PLTA.

“Menyusul kemudian pada proyek Pomalaa, di Sultra, juga akan menerapkan operasional rendah karbon emisi. PT Vale Indonesia sangat fokus pada sektor pertambangan dan processing nikel, meski demikian tentunya operasional yang ramah lingkungan menjadi perhatian utama,” ungkapnya.

Tak hanya pada penerapan operasional ramah lingkungan, dari sisi komitmen terhadap Paris Agreement, PT Vale Indonesia Tbk terus melakukan reklamasi pasca tambang serta pembibitan.

“Di atas lahan seluas 2,5 ha di Sorowako, Sulawesi Selatan, kita telah menghasilkan sebanyak 700.000 bibit per tahun untuk merehabilitasi 100 hektar area pasca tambang. Data per September 2021 total lahan yang sudah direklamasi mencapai 3.301 hektar,” ujarnya.

Lahan rehabilitasi hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 90 hektare diserahkan PT Vale ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (Dok. PT Vale)

Rehabilitasi DAS di 13 Kabupaten dan 51 Desa

Tidak hanya itu, jelas Febriany, perseoran juga telah melakukan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan program penanaman tanaman jenis kayu-kayuan dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di luar wilayah Kontrak Karya PT Vale.

“Tujuannya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi DAS. Sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga,” kata Febriany.

Saat ini rehabilitasi, papar Febriany, DAS dilakukan di 13 kabupaten dan 51 desa dengan luas 10.000 hektar, masing-masing tersebar di Kabupaten Luwu Timur seluas 1.490 hektar, Luwu dan Luwu Utara seluas 1.996 hektar.

Tana Toraja seluas 1.190 hektar, Toraja Utara, Enrekang dan Pinrang seluas 979 hektar, Bone seluas 1.735 hektar, Soppeng dan Gowa seluas 1.135 hektar, Barru, Maros, Gowa dan Takalar seluas 1.475 hektar.

“Sampai saat ini praktik rehabilitasi kami masih diakui diantara yang terbaik di Indonesia. Untuk itu diharapkan semoga semakin banyak perusahaan tambang yang bisa melakukan praktek pertambangan berkelanjutan seperti yang diterapkan di PT Vale Indonesia Tbk,” pungkasnya. (Hamka Andi Tadda)

Ikuti juga kami di Google News Smart News